Jelang 95 Tahun Persebaya: Catatan Perjalanan

Halo Arek Suroboyo! Yok opo kabare rek? Bagi arek Suroboyo, Persebaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang kota Surabaya. Jelang 95 tahun Persebaya, sudah banyak bermunculan euforia di tiap sudut kota Surabaya. Hal tersebut dilakukan oleh fans setia Persebaya yang disebut Bonek. Bagaimana kiprah klub sepak bola asli Surabaya yang sebenarnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda? Berikut rangkuman cerita perjalanan Persebaya dari zaman penjajahan Belanda hingga 95 tahun setelahnya.

PERSEBAYA
Sumber: Dokpri dan ig @officialpersebaya


Persebaya Lebih Tua dari Usia Kemerdekaan Indonesia

Indonesia merdeka tahun 1945, sedangkan Persebaya sudah ada sejak tahun 1927 dengan nama awal Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Tak heran jika usianya jauh lebih tua dari kemerdekaan Indonesia, yaitu hampir mencapai 95 tahun.

Klub sepak bola asli Surabaya ini tentunya punya sejarah panjang yang tak lepas dari sejarah kota Surabaya. Oleh karena itu, kiprahnya selalu jadi kebanggaan tersendiri bagi warga Surabaya.

Perjalanan Persebaya

Bermula pada tahun 1910 dimana komunitas Belanda di Surabaya membentuk klub sepak bola bernama Soerabhaisasche Voetbal Bond (SVB) yang hanya berisi orang-orang Belanda di Surabaya. Selain kaum Belanda, para etnis Tionghoa juga mengembangkan cabang sepakbola tahun 1919 di bawah klub olahraga Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya.

Persebaya ulang tahunke 95

Tidak mau kalah dengan mereka, sebagai penduduk asli Surabaya, Paijo dan M. Pamoedji pada tanggal 18 Juni 1927 mendirikan Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) sebagai wadah bagi warga Surabaya yang ingin bermain bola. Setelah 3 tahun berdiri, SIVB atau nantinya dikenal dengan Persebaya merupakan satu dari tujuh klub besar di Indonesia yang mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tanggal 19 April 1930.

Barulah pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabadja). Pada tahun 1960, nama Persibaja akhirnya berubah nama menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya) seperti yang kita kenal saat ini.

Prestasi Persebaya

Persebaya punya catatan prestasi gemilang kala itu dengan menjuarai era perserikatan sebanyak 6 kali pada tahun 1941, 1950, 1951, 1952, 1975/1978, dan 1987/1988. Di era Liga Indonesia pun Persebaya menunjukkan kelihaiannya dengan menjuarai musim 1996-1997 dan 2004. Pada musim liga 2021/2022, meskipun Persebaya gagal membawa trofi juara, pada awarding ceremony menyabet banyak penghargaan yang diberikan oleh tim Technical Study Group (TSG). Setidaknya ada tiga kategori yang berhasil dimenangkan oleh tim Kota Pahlawan, yakni gelar pemain muda terbaik, pemain terbaik, dan pelatih terbaik.

Catatan Come Back Elegan Persebaya

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpanya." (Anonim)

Persebaya juga pernah mengalami pahitnya degradasi ke dalam Divisi Satu pada kompetisi musim 2005 dengan cara yang aneh karena tiga kali dipaksa bertanding dengan Persik Kediri. Padahal sesuai regulasi seharusnya Persebaya sudah menang 3-0 tanpa bertanding karena pihak Persik Kediri gagal menyelenggarakan pertandingan sebanyak 2 kali karena tidak mendapatkan izin keamanan.

Pihak Persebaya pun menolak untuk bertanding untuk yang ketiga karena merasa keputusan tersebut tidak adil. Sebagai bentuk protes terhadap PSSI, Persebaya ikut berkompetisi di Liga Premier Indonesia (LPI) yang merupakan tandingan Indonesia Super League (ISL) dan tidak diakui oleh PSSI. Pada saat itu, muncul klub sepakbola bernama Persebaya DU yang menggantikan kiprah Persebaya, sedangkan Persebaya yang bertanding di LPI menggunakan nama Persebaya 1927.

95 tahun Persebaya
Tim Persebaya saat ini (sumber: ig @officialpersebaya)

Dualisme Persebaya itu pun berbuntut panjang hingga pada tahun 2017, PSSI melalui Kongres di Bandung akhirnya mengakui status Persebaya 1927 dan memperbolehkan klub asal Jawa Timur itu untuk kembali menggunakan nama Persebaya. Nama klub sepakbola yang menggunakan nama Persebaya DU, saat ini telah berubah menjadi Bhayangkara FC, setelah sebagian besar sahamnya dibeli oleh POLRI tahun 2016.

Namun, keputusan PSSI mengharuskan Persebaya berkompetisi dari Liga 2. Bonek pun menyambut dengan suka cita keputusan tersebut. Barulah setahun setelahnya sebuah come back elegan mengantarkan Bajul Ijo naik kasta ke Liga 1 pada 2018 dan bertahan hingga sekarang. 

Bonek, Persebaya, dan Arek Suroboyo

Siapa yang tak kenal dengan Bonek, sebutan untuk arek Suroboyo yang merupakan pendukung setia Persebaya. Seperti dimuat dalam artikel berjudul "Bonek, Sebuah Indentitas Kultur Sepak Bola Surabaya" yang dimuat KOMPAS.com pada 21 April 2020, Bonek sebenarnya merupakan singkatan dari karakter "Bondo Nekat". Meskipun dulu sering mendapat stigma negatif dari masyarakat karena benar-benar memiliki karakter "Bondo Nekat", kini banyak Bonek yang sudah membuktikan bahwa mereka tidak senegatif yang banyak orang pikirkan.

95 tahun Persebaya #goin95tronger
Kehadiran Bonek saat pertandingan Persebaya (sumber: ig @officialpersebaya)

Stigma negatif itu muncul akibat banyak oknum yang berulah tanpa memikirkan akibat ke depannya. Saat ini sudah banyak kegiatan positif Bonek seperti penggalangan dana sosial, Bonek bersholawat, dan masih banyak lagi hal positif yang mereka bangun untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat.

Wisma Karang Gayam, Bagian dari Legenda Persebaya

Lokasi Wisma Karang Gayam berada di sebelah timur Stadion Gelora 10 Nopember. Tempat sederhana itu merupakan cikal bakal lahirnya legenda pesepakbola nasional dari Surabaya, mulai dari era Jacob Sihasale hingga Rachmat Irianto.

Persebaya mulai menggunakan Wisma Karang Gayam pada tahun 1950/1960 an sebagai tempat berlatih. Di situ juga terdapat banyak piala serta penghargaan bukti prestasi Persebaya di masa lalu. Dengan demikian, Wisma Karang Gayam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang Persebaya.


Persebaya Saat Ini

Persebaya kini telah tumbuh jadi klub sepakbola elit kesayangan warga Surabaya. Tak hanya Persebaya yang terus berbenah, Bonek pun juga terus berbenah untuk jadi support system yang baik bagi Persebaya.

Kepemilikan Persebaya

Dilansir dari website resmi Persebaya (2017), PT Jawa Pos Sportainment (JPS) dengan CEO Azrul Ananda kini menjadi pemegang saham mayoritas PT Persebaya Indonesia dengan komposisi 70 persen, sedangkan 30 persen saham lainnya dimiliki 20 klub anggota yang tergabung dalam Koperasi Surya Abadi Persebaya (SAP). Dengan kata lain, Azrul Ananda kini menempati kursi direktur utama PT Persebaya Indonesia atau sering disebut Presiden Klub.

Maskot Kocak Jojo dan Zoro

Jojo dan Zoro telah menemani pertandingan Persebaya sejak tahun 2016 sebagai maskot yang hobi "ndagel", khas arek Suroboyo. Jojo dan Zoro sendiri merupakan perwujudan lambang kota Surabaya, yaitu buaya dan ikan sura. Kehadiran Jojo dan Zoro jadi warna sendiri saat pertandingan berlangsung, bahkan jadi primadona tersendiri di kalangan anak kecil yang kadang ikut menonton pertandingan Persebaya bersama orang tua mereka.

Persebaya #goin95tronger
Jojo dan Zoro (sumber: ig @jojo_bonek)

Official Store Persebaya

Selalu trendi dan elegan dalam memunculkan merchandise resmi dan original dari Persebaya, Official Store Persebaya kini telah menjamur di hampir seluruh bagian kota Surabaya. Soal kualitas jangan ditanya, Official Store Persebaya selalu menghadirkan merchandise premium bagi suporter Persebaya.

Bonek Wani Resik - Gelora Zero Waste

Siapa bilang Bonek cuma ngerti "Bondo Nekat" dukung Persebaya. Mereka juga ternyata sadar akan isu perubahan iklim dengan menggaungkan slogan “Bonek Wani Resik” yang berkumandang kembali di GBT jelang laga 729 Game kemarin. Kampanye tersebut inisiatif dari rekan-rekan Bonek untuk turut “menyapu” sisa-sisa sampah yang masih tercecer setelah pertandingan. Hal ini dilakukan untuk mencapai Gelora Zero Waste atau Gelora Nol Sampah, dimana GBT bisa pelan-pelan bebas sampah di setiap pertandingan Persebaya. Luar bisa bukan!


Euforia Jelang 95 Tahun Persebaya

Jelang 95 tahun Persebaya, para Bonek sudah menyerukan untuk memenuhi sudut-sudut kota Surabaya dengan spanduk Persebaya. Salah satunya yang tertangkap kamera di Fly Over Wonokromo. Beberapa spanduk lain juga sudah terpasang di jalan Urip Sumoharjo, jalan Basuki Rahmat, dan lain-lain.

Persebaya 95 tahun #goin95tronger
Pemasangan spanduk jelang 95 tahun Persebaya (sumber: dokpri)

Selain itu, dilansir dari Berita Jatim, Kapolrestabes Surabaya memberikan satu unit mobil ambulance kepada Bonek Disaster Response Team (BDRT) sebagai hadiah untuk ulang tahun Persebaya yang ke 95. Mobil ambulance tersebut diberikan kepada Bonek agar bisa mengabdi ke masyarakat Surabaya. Selain hadiah berupa mobil ambulance, Kapolrestabes Surabaya juga memberikan nomor polisi yang sama dengan tahun kelahiran Persebaya Surabaya, yaitu 1927.


Dirgahayu Persebaya #goin95trong

Persebaya dan kehadiran bonek merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari sejarah panjang kota yang dijuluki Kota Pahlawan." (Asli Arek Suroboyo)

Persebaya tak hanya sekadar klub sepakbola yang lahir di kota Surabaya. Lebih dari itu, Persebaya merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia di masa penjajahan. Banyak prestasi arek Suroboyo yang sudah terekam dalam kenangan Persebaya di pertandingan sepak bola.

Sebagai warga Surabaya, ada baiknya mengenal sejarah kota Sendiri dalam bentuk klub sepak bola yang sudah ada sejak tahun 1927. Bahkan, saat itu Indonesia belum merdeka. Sebuah apresiasi setinggi-tingginya karena mampu bertahan hampir mendekati 1 abad lamanya untuk bertahan, meskipun badai dualisme pernah menghadang, pernah terperosok begitu dalam di lubang ejekan, tapi bangkit dengan kuat nan elegan.

Dirgahayu Persebaya! Semoga terus melangit tanpa melupakan pijakan awalmu di tanah Surabaya #goin95trong."


Referensi

https://www.emosijiwaku.com/2020/02/03/sejarah-lapangan-karanggayam-lebih-dari-50-tahun-hanya-untuk-persebaya/

https://beritajatim.com/olahraga/jelang-ulang-tahun-persebaya-kapolrestabes-surabaya-kado-bonek-ambulance/

https://bola.okezone.com/amp/2021/10/08/49/2483537/profil-persebaya-surabaya-sejarah-berdiri-prestasi-hingga-daftar-pemain-legenda?page=2

https://www.kompas.com/sports/read/2021/06/18/19400018/persebaya-surabaya--sejarah-bonek-dan-stadion-gbt?page=all#page2

https://sejarahpersebaya.com/blog/2022/06/04/gelora-zero-waste/

Related Posts

Posting Komentar