Cerita Horor di Kampus ITS

Halo Arek Suroboyo! Yok opo kabarmu rek? Sebentar lagi seluruh kampus di Indonesia akan menerima calon mahasiswa baru di kampusnya. Bagi sebagian besar calon mahasiswa, tentunya momen ini membuat deg-degan karena akan memulai kehidupan bari sebagai mahasiswa. Kadang, cerita horor selalu jadi bahan obrolan yang seru bagi mahasiswa baru yang biasanya mendapatkan cerita turun-temurun dari kakak tingkat. Salah satu kampus di Indonesia yang berprestasi, tapi di sisi lain menyimpan banyak cerita horor adalah Kampus ITS. 

Cerita horor

Kampus "Perjuangan" ITS

Kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya) atau biasa disebut Kampus Perjuangan merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia. Kampus ITS sudah ada sejak tahun 1957 dengan nama Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT).

Kampus dengan luas total kira-kira 180 hektar untuk Kampus utama di Sukolilo ini masih memiliki banyak tanah kosong yang belum dibangun. Selain itu, di sekitar kampus juga masih banyak terdapat rawa-rawa dan pepohonan yang tinggi. Suasana inilah yang menyebabkan kampus tersebut tampak memiliki aura horor.


Cerita Horor di ITS

Kampus ITS di siang hari tampak biasa-biasa saja. Rangkaian cerita horor yang didapat dari cerita turun-temurun biasanya terjadi saat malam hari. Entah benar atau tidak ceritanya, yang jelas cerita horor tersebut diceritakan turun-temurun dari senior ke junior. Berikut beberapa cerita yang dirangkum dari berbagai sumber.

Disclaimer: Percakapan yang terjadi dalam cerita hanyalah pengembangan imajinasi untuk mendukung terciptanya suasana dalam cerita. Namun, tetap tak mengubah inti cerita. Nama tokoh disamakan karena sumber cerita kebanyakan didapat dari cerita turun-temurun.

1. Tukang Bakso di Lantai 3

Cerita tentang tukang bakso ini punya beberapa versi lokasi kejadian yang berbeda dan diceritakan secara turun-temurun dari para senior. Ada yang menyebutkan di gedung Teknik Kimia. Ada yang menyebutkan di gedung Teknik Fisika. Ada juga yang menyebutkan dari gedung Kimia Murni. Hal yang jelas adalah setting tempat cerita berada di lantai 3.

Cerita bermula dari dua orang mahasiswa yang sedang mengerjakan praktikum tugas akhir di sebuah laboratorium lantai tiga saat malam hari. Sebut saja nama kedua mahasiswa ini Dina dan Rini. Mereka sedang kejar jadwal penelitian agar naskah tugas akhir mereka cepat selesai.

Di malam yang dingin itu, mereka mulai merasa kelaparan. Dina pun mengajak Rini keluar sejenak untuk mencari makan.

“Rin, cari makan, yuk di keputih.”

“Yuk, aku juga laper, nih.”

Ting … ting … ting!

Tak lama kemudian terdengar suara dentingan khas penjual bakso keliling. Rini pun bertanya kepada kawannya untuk memastikan, “Din, kayaknya ada bakso lewat, ya”

“Iya kayaknya. Ya udah, beli bakso aja, yuk.”

Bagian atas rombong sang tukang bakso pun terlihat dari jendela samping laboratorium. Saking laparnya, mereka langsung menghentikan si tukang bakso dari balik kaca laboratorium, dan memesan dua mangkok bakso.

“Pak! Beli baksonya dua mangkok, ya.” ujar Rini dari balik jendela kaca.

Sambil menunggu bakso disiapkan, Dina dan Rini asyik ngobrol, membahas hasil penelitian mereka. Dina pun tiba-tiba terpikir sesuatu, “btw, tumben ya kang bakso bisa masuk ke kampus. Lewat mana, ya?”

“Ya, kan bisa lewat dari jalan tembusan yang dekat sama rumah warga sekitar ITS.”

“Oh, iya, ya. Kan bisa ya, lewat jalan tembusan trus naik ke lantai 3.”

Beberapa saat kemudian, mereka tiba-tiba terbelalak kaget sambil saling berpandangan. Mereka sadar akan sesuatu yang janggal. Bulu kuduk mereka pun langsung berdiri.

“Rin, emang bisa, ya gerobak baksonya naik sampai lantai 3?” bisik Dina sambil melirik ke arah gerobak bakso yang sudah tak nampak lagi dari bagian atas jendela.

“Din …” Ririn ketakutan. Ia memberi kode untuk segera pergi lewat pintu belakang laboratorium. Saat mereka mulai memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas, terdengar suara dari luar.

“Mbak,” suara berat dan serak milik sang tukang bakso terdengar menggema di kegelapan, “baksonya sudah siap …”

Dina dan Rini pun langsung lari terbirit-birit dan keluar lewat pintu bagian belakang laboratorium. Mereka sudah tak peduli lagi dengan barang-barang yang tertinggal di meja laboratorium.


2. Suara Kursi Diseret di Laboratorium

Biasanya cerita horor yang sering diceritakan, terjadi saat malam hari. Akan tetapi, hal ini tak berlaku untuk salah satu laboratorium jurusan ITS. Tak perlu menunggu hingga malam hari, mulai pukul 5 sore, kadang gangguan-gangguan sudah bisa dirasakan oleh mahasiswa yang melakukan praktikum di situ. Sebut saja nama mahasiswa yang pernah mengalami hal ini adalah Sandra.

Hari itu, ada praktikum untuk mahasiswa semester 1. Saat itu Sandra menjadi asisten praktikum yang bertanggung jawab untuk praktikum hari itu. Tak ada yang aneh atau janggal saat proses praktikum hingga pukul 5 sore. Para mahasiswa sudah diperbolehkan pulang. Tinggal beberapa asisten yang membereskan laboratorium, termasuk Sandra. Selesai beres-beres, tinggalah Sandra sendirian di ruang asisten untuk merekap dan cek alat laboratorium.

Beberapa menit kemudian, Sandra mendengar seperti suara kursi diseret. Awalnya ia kira ada mahasiswa baru yang barangnya tertinggal atau suara bapak analis yang hendak bersiap pulang. Ia abaikan saja suara itu.

Tak lama kemudian, suara kursi diseret itu kembali terdengar. Ia pun segera keluar untuk memastikan. Namun, tak ada siapa-siapa di tempat itu. Rasa was-was mulai menyelimuti hatinya.

“Pak Nanang,” Ia mencoba untuk memanggil nama analis laboratorium, “Pak Nanang … Pak Nanang?”

Hening. Tak ada jawaban. Suasana sangat sepi saat itu. Suara kursi diseret pun kembali terdengar dari arah meja laboratorium paling belakang. Semakin lama semakin keras suaranya, seperti mendekat ke arah Sandra. Karena merasa hal ini sudah tidak beres, Sandra bergegas mengambil tasnya, lalu segera ke luar, dan lari dengan kencang.


3. Sudah Malam atau Sudah Tahu?

Cerita ini merupakan salah satu cerita yang paling legendaris yang diceritakan turun-turun oleh senior di ITS. Sama seperti cerita awal, ada banyak versi dari cerita ini mulai dari versi perpustakaan, versi kelas, dan lain-lain dengan inti cerita yang sama. Versi yang paling terkenal adalah versi perpustakaan.

Dulu, perpustakaan ITS pernah buka hingga 24 jam. Namun, sudah sejak lama pula jam buka perpustakaan ITS dibatasi hanya sampai sore saja. Di masa perpustakaan ITS buka hingga 24 jam, sebut saja ada satu mahasiswa bernama Anton. Tugas kuliah di ITS yang terkenal seabrek, membuat Anton harus lembur di perpustakaan hingga larut malam.

Saat asyik mengerjakan tugas di meja dekat rak buku perpustakaan, ada seorang mahasiswi yang datang dan sedang memilih buku di rak buku sebelah Anton, "permisi, mas, aku mau cari buku di rak ini, ya."

"Oh, iya, silakan, mbak," sahut Anton ramah.

"Mas lagi lembur kah, kok sampai larut malam di sini?"

"Iya, mbak."

Mereka berdua pun asyik mengobrol hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Pulpen Anton tiba-tiba jatuh dan menggelinding ke bawah meja. Anton pun reflek mengambil ke bawah meja dan sadar akan sesuatu.

Kaki sang gadis itu tidak menapak tanah alias melayang. Anton berusaha menenangkan diri dan berpura-pura sudah menyelesaikan tugasnya. Ia pun pamit kepada si gadis itu.

"Mbak, aku mau balik dulu, ya. Sudah Malam soalnya."

Gadis itu tersenyum dibalik wajah pucatnya, "sudah malam atau sudah tahu, Mas?"


4. Pinjam Gayung

Bagi mahasiswa tingkat akhir di ITS, menginap di kampus untuk menyelesaikan penelitian adalah hal wajar. Kampus pun masih termasuk ramai hingga tengah malam. Maklum, para aktivis dan mahasiswa tingkat akhir biasanya yang masih lalu-lalang di kampus hingga larut malam.

Suatu ketika, sebut saja nama mahasiswa apes ini adalah Dika. Deadline sidang tugas akhir yang semakin dekat, membuatnya harus rela menginap di kampus untuk segera menyelesaikan penelitian.

Sekitar pukul 2 dini hari, Dika ingin buang air kecil di kamar mandi lantai 3, yang dekat dengan laboratorium. Tanpa pikir panjang, ia pun segera ke kamar mandi itu, meskipun sebenarnya kamar mandi lantai 3 terkenal angker di jurusan tersebut.

Saat memasuki kamar mandi, tak ada yang aneh, atau pun membuatnya merinding. Tak lama kemudian, ia mendengar ada suara orang masuk ke kamar mandi sebelahnya.

"Mas … mas …" suara wanita terdengar dari kamar mandi sebelah.

Awalnya, ia tak curiga dengan suara tersebut. Ia pikir itu mahasiswi tingkat akhir yang juga sedang mengerjakan penelitian.

"Iya mbak?" sahut Dika santai.

"Boleh pinjam gayung, nggak mas? Di sini nggak ada gayung."

"Bisa mbak, ini aku juga udah selesai, kok. Ini aku oper dari atas, ya?"

Hening. Tak ada suara dari kamar mandi sebelah. Hanya ada suara gemericik air mengalir.

"Anu, mas …"

"Iya?"

"Aku gabisa nerima gayungnya?"

"Lo, kenapa, mbak? Nggak kesampaian tangannya buat ngambil ta?"

"Bukan, mas. Aku nggak punya tangan. Hihihihihi!" Suara tawa nyaring terdengar dari kamar mandi sebelah.

Dika yang terkejut, langsung membuka pintu kamar mandi, dan lari terbirit-birit ke lantai bawah.


Ambil Hikmahnya, Buang Hal Negatif dari Cerita Horor

Pada dasarnya, semua tempat pasti ada penghuni lain dari dimensi ghaib. Terlebih lagi usia bangunan kampus ITS sudah tua dan dulunya daerah situ masih dipenuhi rawa-rawa.

Begitulah beberapa cerita horor yang datang dari kampus ITS. Beberapa hikmah yang bisa diambil adalah jangan beraktivitas terlalu malam, selalu bentengi diri dengan ibadah, dan percaya bahwa tak ada kekuatan yang lebih besar dibandingkan kekuatan Sang Pencipta.

Kira-kira kampus mana lagi nih yang akan dibedah cerita horornya? Silakan tinggalkan ide di kolom komentar. Terima kasih!

Related Posts

Posting Komentar